untaian doa dalam perjalanan kematian

Sebuah Untaian Doa dalam Perjalanan Kematian

Jika muncul sebuah pertanyaan “Apa sebenarnya tujuan hidup manusia?” pasti berbagai jawaban yang bermacam-macam akan hadir. Ada yang ingin menjadi pengusaha sukses, dokter, seorang jurnalis, atau pengacara.

Tujuan hidup manusia memanglah beragam, karena masing-masing dari mereka memiliki prinsip serta arah tersendiri dalam hidupnya. Dari semua jawaban yang ada, terdapat satu jawaban pasti yang akan dilalui oleh semua manusia, yaitu sebuah kematian. Apakah kematian bisa dikatakan sebagai tujuan hidup manusia? Entahlah, namun pastinya semua manusia yang mengalami sebuah kehidupan, akan bertemu juga dengan yang namanya kematian.

Untuk menghormati serta memanjatkan doa kepada mereka yang sudah meninggal, maka diadakanlah upacara tahlilan. Acara ini biasanya berisi doa dan pembacaan Surat Yasin yang dilakukan secara bersama-sama oleh warga. Dalam buku Tahlil dan Kenduri: Tradisi Santri dan Kiai karya M. Madchan Anies (Anies, 2009), tahlil berarti “membaca serangkaian surat-surat Al-Qur’an, ayat-ayat pilihan, dan kalimah-kalimah zikir pilihan, yang diawali dengan membaca surat Al-Fatihah yang mana meniatkan pahalanya untuk para arwah yang dimaksudkan oleh si pembaca atau oleh si empunya hajat, dan kemudian ditutup dengan doa”.

Acara tahlilan ini bukan dilaksanakan sebagai perayaan bagi orang yang sudah meninggal, namun acara ini berfokus pada pemanjatan doa, bacaan ayat suci Al-Qur’an, serta zikir-zikir kepada Allah Swt atas orang yang telah meninggal, tidak lain agar orang tersebut diampuni dosa-dosanya. Namun, tidak jarang juga acara tahlilan ini digunakan untuk menemani serta menghibur keluarga yang ditinggalkan akibat kematian.

Baca Juga : Viral, Bocah 12 Tahun Jadi Sopir Truk Tronton

Dalam tradisi masyarakat Jawa, acara tahlilan ini bisa dibilang merupakan kolaborasi antara kebudayaan Hindu dengan ajaran Islam. Sebab dalam agama Hindu ada upacara selamatan untuk memperingati orang yang sudah meninggal, dimana biasanya dilaksanakan pada hari ke 7, 40, 100, dan 1000. Upacara selamatan itu dalam Bahasa Jawa disebut dengan Genduri (Kenduri atau Kenduren).

Baca Juga : Ga‌ ‌Sabar!!!‌ ‌Love‌ ‌Alarm‌ ‌Season‌ ‌2‌ ‌Akan‌ ‌Tayang‌ ‌2021

“Biasanya keluarga dari orang yang telah meninggal akan mengundang seluruh warga dusun untuk datang ke rumahnya, dengan tujuan memanjatkan doa melalui tata cara Jawa yang dipimpin oleh salah satu sesepuh di dusun tersebut. Setelah itu warga akan diberi nasi yang berbentuk gunungan atau biasa dikenal dengan sego berkat, lengkap dengan lauk pauknya berupa serundeng, oseng lombok kentang, dan yang paling utama adalah ayam ingkung,” tutur Ibu Marti, salah satu warga dari Wonogiri yang masih melaksanakan tradisi kenduri di keluarganya. Setelah acara kenduri dilaksanakan, selanjutnya barulah dilaksanakan acara tahlilan.

untaian doa dalam perjalanan kematian 2
Pelaksanaan acara kenduri oleh warga.
(Doc: Writer)

Menurut Bapak Parman, salah satu sesepuh dari Desa Ngadirojo Lor, Kabupaten Wonogiri, orang Jawa percaya bahwa selamatan pada hari-hari tersebut ada maknanya sendiri-sendiri. Selamatan pada hari ke-7 bermakna untuk menghormati ruh yang dianggap masih ada di rumah tersebut namun sudah ingin keluar dari rumah.

Baca Juga : VMin Graduation, Penggemar Salut dengan Persahabatan Mereka

Selamatan pada hari ke-40 memiliki makna menghormati ruh yang dianggap sudah keluar rumah, yaitu menuju ke alam kuburnya. Arwah tersebut masih berkeliaran di sekitar pekarangan rumah. Kemudian selamatan pada hari ke-100 memiliki arti penghormatan kepada ruh yang sudah di alam kubur, namun ruh tersebut masih bisa kembali ke rumah. Terakhir atau biasa disebut dengan “entek-etekan” adalah selamatan pada hari ke-1000, yang mana ruh benar-benar meninggalkan keluarga menuju ke alam lain.

Akhir Kata

Kematian adalah gerbang menuju ke dunia lain. Karena sejatinya, apa yang tampak di dunia ini hanyalah sesuatu yang fana, sesuatu yang bersifat sementara. Tugas kita sebagai manusia adalah dengan tetap menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Berlomba-lomba menjadi hamba yang terbaik di mata Tuhan.

Oleh karena itulah, berbagai tradisi untuk mengenang orang yang telah meninggal sebaiknya tidak kita tinggalkan begitu saja, karena ini merupakan salah satu cara agar kita dapat menyampaikan untaian pesan dalam bentuk doa kepada Tuhan, untuk mereka yang telah pergi meninggalkan kita menuju ke alam lain.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *